Sunday, September 04, 2016

Menjadi Mahasiswa Terjun Bebas Bak Sepasang Merpati

Surat Shofwan Karim dari London (1):

Menjadi Mahasiswa Terjun Bebas

Bak Sepasang Merpati


Sahabatku H. Darlis, Zaili, Hasril dan Eko. Hari Senin 26/7 kami berangkat dari Bandara Lama Internasional Kairo. Bandara ini khusus basis penerbangan Egypt Air. Penerbangan lain dari berbagai perusahan seluruh dunia terletak pada Bandara Baru. Kami berangkat ke London dengan MS 777 pukul 14.05 waktu Kairo. Kami sampai di Terminal Heathrow London seyogyanya menurut tulisan di tiket adalah pk. 17.05 waktu setempat.
 Penerbangan ditempuh 4 jam 55 menit. Akan tetapi, menurut Eddy Pratomo, SH, MA, Deputy Chief of Mission, atau wakil Duta Besar RI di London, kami terlambat. Ia telah berada di airport menjemput kami  sesuai jadwal. Tetapi pesawat kami terlambat 45 menit.
Meskipun kami sudah di London, tetapi pikiran saya masih di Kairo. Ada tiga  hal lain tentang Kairo yang akan saya ceritakan. Pertama soal suka-duka mahasiswa Indonesia umumnya dan khususnya Minang di Mesir. Kedua tentang Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Kairo, Mesir.
 Dan ketiga apa yang saya lihat dan pikirkan ketika kami diajak oleh Pengurus KMM mengunjungi kota Wisata Alexandria atau Iskandariyah, pantai Utara Mesir pada Ahad, 25/7 sehari sebelum ke London. Dengan demikian, apa yang menjadi agenda,  kami lakukan serta kami pikirkan di London, khususnya dan Inggris umumnya, akan saya tunda pada surat berikutnya.
            Seorang Mahasiswa menceritakan kepada saya. Dan ini dibenarkan oleh salah seorang staf di KBRI, ketika saya pamitan dan diterima oleh Kuasa Usaha At Interim S. Permadi. Seperti telah disebutkan Dubes Prof Dr. Bachtiar Aly sedang ke Indonesia. Sekarang cerita yang pertama dulu.
Kedatangan mahsiswa Indonesia belajar di Kairo melalui tiga cara. Pertama melalui testing Departemen agama RI. Dulu itu dilakukan di pusat. Sejak dua tahun terakhir sudah di IAIN yang ditunjuk di beberapa daerah, termasuk di IAIN Imam Banojol Padang.
            Ini biasanya, kalau lulus tahun ini, maka tahun depan sudah berangkat di Kairo dan langsung dapat bea-siswa dan jelas universitas yang dituju, misalnya al-Azhar. Tetapi jangan lupa pula, Universitas Al-Azhar tidak hanya ada di Kairo tetapi juga di bebrapa provinsi Mesir di luar ibukota ini.
Mahasiswa Indonesia, bahkan  dari KMM pun ada yang kuliah di luar Kairo itu. Oh, ya perlu saya jelaskan  agak detil. Bea siswa dari al-Azhar atau dari lembaga atau perorangan manapun  hanya untuk kuliah agama di beberapa universitas  dan institut di Mesir. Di luar bidang studi agama, kecil sekali kemungkinannya mendapat beasiswa tersebut.
            Model kedua adalah dengan terjun pakai “parasut”. Ini istilah itu mereka yang tidak melalui testing Depag RI, tetapi melalui upaya perorangan. Di antraranya berkat jasa alumni dari berbagai pesantren dan Madarasah Aliyah di Indonesia.
            Para senior ini menelusuri kemampuan dan minat dari adik-adik mereka. Lalu mereka yang mampu dan berminat sangat tinggi diminta mengirimkan copy ijazah, akta kelahiran dan passport yang sudah dilegalisir. Semua copyian yang telah  dilegalisir ini sampai di Kairo diurus oleh senior untuk mendapatkan pengantar khusus dari KBRI di sini. Kemudian barulah dinegosiasi ke jurusan, fakultas dan Universitas yang dituju.
Biasanya kalau berjalan lancara, maka masing-masing calon sudah kmendapat surat penermaan langsung. Dengan begitu maka calon mahasiswa  segera mengurus visa mahasiswa di Kedutaan Mesir di Jakarta. Hanya, mereka harus membiayai sendiri kedatangannya ke Mesir dengan tikt pulang-pergi yang open.
Di antara mereka ada yang langsung kuliah pada tahun itu juga. Jadi tidak perlu menunggu tahun depan. Tergantung kecepatan pengurusan dan kalender tahun akademik baru yang bakal diikuti. Bagi mereka yang beruntung, langsung bahkan dapat beasiswa. Bagi yang tidak harus rela menanggung dulu bea hidup sendiri. Biasanya keadaan itu hanya berlangsung satu semster atau paling lama satu tahun. Berikutnya beasiswa sudah tersedia.
Ketiga ada istilah terjun “bebas”. Ini berlaku untuk anak-anak muda yang nekat, berani dan siap tanggung resiko. Saya tidak akan sebutkan sumbernya. Tetapi si Fulan, misalnya, sukses melakukan itu. Sekarang dia kuliah dengan baik dan berprestasi baik dan mendapat beasiswa sama dengan yang proses normal lainnya.
Si Fulan sebut saja begitu datang ke Mesir dengan visa turis. Tinggal di hotel 2 sampai 3 hari, kemudian menghilang dan mencari tempat himpunan kekeluargaan mahasiswa yang ada di sini. Seperti telah disinggung pada surat sebelumnya, ada 16 kekeluargaan di sini. Kemudian ada lagi 4 organisasi lintas ethnis dan daerah di Indonesia. Misalnya Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama, Keluarga Persatuan Islam (Persis), dan PPMI sendiri.
            Semua kekeluargaan mahasiswa dan organisasi  itu mempunyai sekretariat dan tempat berkumpul resmi. Sekitar seribuan orang warga Inndonesia non-mahasiswa yang sudah bermukim lama dengan berbagai profesi di sini, juga tempat berlindung sementara mereka. Belakangan setelah diproses, seperti yang terjun “parasut” tadi, mereka akan menjadi mahasiswa legal.
            Bea-siswa yang mereka adalah sama akhirnya. Baik yang resmi, baik yang “parasut” maupun terjun bebas tanpa parasut. Jumlahnya untuk yang tinggal di asrama adalah 90 (sembilan puluh) pounds Mesir. Untuk yang non-asrama162(seratus enam puluh dua) pounds Mesir. Kira-kira setara dengan 27 dan 15 dollar AS . Atau kalau dirupiahkan langsung dari pounds Mesir setara 1500 rupiah, jadinya antara 243 ribu dan 135 ribu rupiah.
            Untuk yang tinggal di asrama, mereka semua difasilitasi gratis termasuk makan siang. Untuk mereka yang tinggal di luar, tentu saja bersama-sama kos dengan beberapa teman di satu kamar tentu agak mengencangkan ikat pinggang. Tetapi, sekedar bertahan untuk hidup, masih bisa. Karena beras satu kilo hanya 1 pound atau seribu lima ratus rupiah. Bandingkan lain, satu jam pakai internet 1 pound atau juga 1500 rupiah.
            Bagi yang campin dan cekatan, dan ini umumnya mereka yang terjun bebas, banyak hal bisa dilakukan untuk tambah belanja. Suka duka mereka bervariasi. Ada yang menjadi pembantu di toko. Ada yang jadi sopir dan ada yang menjadi penjaga dan pelayan warung internet. Apalagi sejak  akhir Juni sampai September nanti mereka libur panjang musim panas. Yang paling enteng kerjanya adalah menjadi perantara untuk bermacam keperluan orang . Sejak dari tiket pesawat sampai ke alat alat elektonik hingga  keperluan rumah tangga . Modalnya hanysa satu : telepon genggam atau HP.

            Kalau ingin lebih hemat  dan banyak suka rianya, adalagi. Dan ini juga berlaku bagi mereka yang suka suka nekat dalam bentuk lain. Mulai kuliah, langsung cari pasangan dan menikah. Tinggal bersama dan biya digabung berdua dan masak sendiri pula lagi. Bahkan tak jarang, yang nekat begini lebih tinggi prestasinya . Mungkin karena lebih konsentarasi dan bahagia. Kami bertemu dengan satu pasangan mahasiswa-mahasiswi seperti ini. Mereka tampak cerah. Bak sepasang merpati yang terbang  dan pulang ke rumahnya yang damai dan belajar berdua-dua.***.  

Mosque

Mosque
Masjid at Massachussette, Wash, DC

Grand Central, Washington, DC.

Grand Central, Washington, DC.
in Front of Train Station of Grand Central Wash. DC

Washington, DC

Washington, DC
During IV Leadership Program, at George Washington Statue

Portland, Maine

Portland, Maine
Family Dinner Program in Portland, Maine.

IV Leadership Program

IV Leadership Program
On Right, DR. Razi Hasan, Imam Masjid Tauhid, Hunstville, Alabama after an International Seminar of Muslim Community, May 2005

Birmingham, Alabama

Birmingham, Alabama
At the Hospital for Senior Citizen with Participant from Uganda, the Philippines, Tanzania and .....

IV Pasrticipants

IV Pasrticipants
Left and Right Participant from Nigeria (Abdul Latif) Washin and Tanzania

George Washington University

George  Washington University
A part of Medical Faculty of George Washington University

IV Program, Friends

IV Program, Friends
A friend from Pakistan. Snap in front of White House arena

IV 2005, Friends

IV 2005, Friends
Bob, A Efendi, some one, Jo, all of Staff of IV Leadership Program 2005, visited Malaysia after program on Jan, 2006

Santa Fe, NM, USA

Santa Fe, NM, USA
Down-hill Skiing, Santa Fe, IV 2005

Seattle Farmer Market

Seattle Farmer Market
Azhari Affandi (Malaysia Participant), Pakistani Lady, South Africa Lady, The Pihilipine and others at Farmer Market Seattle, WA

International Visitor

International Visitor
Evaluation Meeting of Program in Seattle, WA, May, 25, 2005

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban


Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban, (Kerisauan Bersama Cucu Magek Dirih)

www.padangekspres.co.id/
Kamis, 12 Juni 2008
Oleh : Shofwan Karim.

Cendekiawan MuslimKerisauan Cucu Magek Dirih (Cucu Magek/CM), harus diakui telah menjadi kerisauan kita bersama. Termasuk Cucu Bandaro Saga Jantan (Cucu Saga/CS).

Maka berikut ini diskusi lanjutan dalam rangkaian menyambut esai CM, Selasa 3 Juni lalu: “ Transformasi Islam yang Membina Perilaku Umat (Shofwan Tidak Risau/Sudah Puas?)”.

Sebelumnya, CM (Sutan Zaili Asril) menulis kegagalan subyek pembina perilaku umat. (Lihat, Padang Eskpres, “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, Minggu, 25/5. Terhadap esai itulah CS (Shofwan Karim) menulis, “Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat—Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih”, Sabtu, 31/5.

Kalau tidak salah, kali ini CM menggeser pokok pembahasan dari yang semula subyek (umara/ulama, dai/muballigh) yang gagal melakukan pembinaan ummat kepada hal bawaan subyek itu, yaitu transformasi Islam. Paling tidak, gagasan itu yang ditangkap oleh CS dalam membaca diskusi 3/6 yang baru lalu. Oleh karena itu, sebaiknya ke mana irama gendang CM, ke situ pula langkah SC berayun. Singkatnya, CM menghendaki cendekiawan muslim memiliki konsep transformasi Islam yang membina perilaku umat.

Mungkin yang diinginkan CM adalah konsep baru. Kalau konsep lama, rasanya seperti menuangkan garam ke laut. Khazanah “garam” intelektual CM sudah penuh dengan konsep lama itu. Katakanlah, setiap cendekiawan yang tergabung di dalam berbagai organisasi ummat di Indonesia telah memiliki konsep transformasi Islam yang sudah lama tersebut. Muhammadiyah (dulu) memiliki konsep 9 komponen matan-keyakinan hidup dan cita-cita.

Sejak Muktamar 2000, konsep itu dilengkapi dengan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama dengan konsep ahlu sunnah wal jamaah-nya; persaudaraan (ukhuwah) imaniah, wathaniyah dan basyariah-nya. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dengan konsep 5 K-nya. Tidak perlu pula CS menguraikan satu persatu karena nanti CM akan menganggap menggurui. Itu hanya untuk menyebut secuil konsep yang menurut CS perlu dipertimbangkan terus-menerus dikaji, diaplikasikan dan dievaluasi.

Kalau kita mau singgung Persatuan Islam (Persis), al-Jamiah-alkhairiah, al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan seterusnya, maka deretan konsep itu semakin panjang. Lebih dari itu, sejak dari wafatnya Rasulullah, masa sahabat dan masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, Bani Umaiyah, Shafawi, Mughal, Ustmani, sampai berakhirnya kekhalifahan Islam dengan merdekanya negara-negara Islam di dunia sejak pertengahan abad lalu, secara global transformasi Islam tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas.

Ketidakselesaian transformasi Islam itu, menurut hemat CS adalah sesuatu yang harus direnungkan secara dalam. Apakah Islam sudah selesai menjadi agama kebudayaan dan peradaban? Islam mungkin sudah selesai menjadi agama wahyu, menjadi agama theologi atau dimensi akidah. Tetapi ketika Islam menjadi perilaku budaya dan peradaban, maka menurut CS, transformasi Islam tidak akan pernah berhenti dan berakhir.

Hal itu menjadi relevan karena kebudayaan dan peradaban manusia termasuk ummat Islam terus berkembang. Secara kasat mata, terjadi transformasi yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dimensi syariah, ambil misalnya fikih munakahat (pernikahan). Kitab fikih kita oleh beberapa kalangan diminta untuk ditinjau secara komprehensif akibat perkembangan budaya dan peradaban baru yang disebut dunia maya (virtual world/cyberworld). Masalah ijab kabul, misalnya.

Kalau dulu ada pendapat pro kontra ijab-kabul via telepon, maka sekarang bagaimana dengan sistem chatting internet atau via video-call 3 G. Contoh-contoh itu akan bisa diperpanjang dengan bidang dan dimensi lainnya dalam perkembangan budaya dan peradaban mutakhir lainnya.
Bagaimanapun, transformasi Islam ada yang berjalan secara terencana atau sebaliknya alamiah (untuk tidak menyebut tanpa konsep). Tergantung pemahaman dan praktik Islam oleh siapa, di mana, serta pada tingkat komunitas inetelektual, akal dan budaya pendukungnya. Misalnya soal perilaku ummat.

Kalau yang kita maksud perilaku aqidah dan ibadah yang semestinya bersesuaian dengan perilaku budaya (praktik hidup), maka Al-Qur’an sudah menyebutkan secara lugas dan tegas bahwa orang yang bertaqwa itu mesti dekat kepada Allah dan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya, karena Allah lebih dekat dari pada urat leher mereka sendiri.

Shalat, selanjutnya, bukankah ibadah wajib ini tidak hanya gerakan fisik tetapi lebih-lebih lagi mengubah perilaku untuk tidak melakukan yang terlarang dan yang mungkar? Sebutlah Aqidah dan ibadah mahdhah dan rukun Islam yang lain, semuanya sudah tercantum di dalam kitab-kitab putih atau kuning mengenai Ushuluddin (Tauhid), Syari’ah, Fikih, Tasawuf dan seterusnya.

Tiap-tiapnya ada pemikiran terdalam yang disebut dengan filsafat (hikmah) aqidah dan syari’ah-nya. Semuanya mengacu kepada konsep transformasi perubahan perilaku dari yang tercela kepada yang terpuji untuk setiap individu, kolegial dan komunal. Soalnya, siapa yang menatalaksanakan konsep itu dalam pentadbiran (manajemen) kehidupan?

Di sini barangkali ada sedikit perbedaan cara pandang antara CM dan CS. Kalau CM memandang beban itu terletak pada pundak umara dan ulama. Pada pikiran CS, beban itu harus dipikul bersama oleh setiap orang dan komponen serta unsur, alias tanggung jawab kolektif, sejak dari rumah tangga sampai ke ruangan publik. Tentu ulama dan zu’ama (cendekiawan) berada dan mengemban posisi dan fungsi strategis.

Keduanya sudah (relatif) dan diharapkan menjadi lokomotif, penggerak utama. CS sependapat dengan CM, sebagai transformator, umara dan ulama berada pada garis depan. Kalau umara’ menjadi mesin penggerak, maka ulama selayaknya menjadi dinamo atau aki yang merangsang mesin itu terus menerus. Tetapi perlu direnungkan bahwa kedua komponen itu tidak berarti apa-apa tanpa komponen-komponen lainnya.

Di dalam transformasi Islam ini, bisa jadi kita harus mengkaji ulang tentang Islam ini. Sebelumnya kita kita sudah terlanjur mempunyai Islam “yang masing-masing”. Betapa, kadang-kadang kita berharap orang lain berbudaya dan berperadaban Islam seperti apa yang kita pikirkan, sementara pikiran dan akal itu merupakan anugerah paling berharga dari Allah SWT.
Termasuk dalam manifestasinya pada kehidupan masing-masing diri, keluarga, komunitas dan seterusnya. Soalnya sekarang, ada di antara kita yang bekerja terus menerus di segmen praktis seperti guru, dosen, pedagang, wartawan, pemerintah, dan kelompok profesional yang terlanjur tidak menoleh ke kanan dan kiri.

Ada di antara kita yang menganggap Islam yang kita pikirkan kita praktikkan, itulah yang paling benar. Sementara yang orang lain pikirkan dan praktikkan adalah salah. Artinya, masing-masing kita harus mentranformasi Islam dalam dirinya, budayanya dan peradabannya, termasuk CS. Islam yang rahmatan lil alamin. ***