Friday, May 19, 2017

Bersama Prof. Armando Salvatore, McGill University






Kami sempat bertemu dan berdiskusi dengan Prof Armando Salvatore di ruangan kerjanya, Rabu, 18 Februari 2015. Sebagian wacana diskusi iu telah dimuat di Harian Singgalang.





Armando Salvatore
Professor of Global Religious Studies (Society and Politics)
Barbara and Patrick Keenan Chair in Interfaith Studies                                                                                                                    

Education

  • M.A. (University L'Orientale, Naples)   
  • Ph.D. (European University Institute, Florence)
  • Dr. Habil. (Humboldt University, Berlin)                                                      
                                                                                                                                        

Fields of specialization

  • Religion and Communication (with particular emphasis on the public sphere)
  • Sociology and Anthropology of Islam
  • Interfaith Studies
  • Religion and Globalization

 

Profile

Armando Salvatore is a sociologist of religion, culture and communication who has taught at Humboldt University, Berlin and at the Oriental Studies University, Naples (L’Orientale) before joining McGill. He earned his PhD from the European University Institute, Florence, in 1994 and his professorial habilitation from Humboldt University, Berlin in 2006. He has held research fellowships at the Institute for the Study of Islam in the Modern World (University of Leiden), the Institute for the Advanced Study in the Humanities (University of Duisburg-Essen), the Humboldt Center for Social and Political Research (Humboldt University, Berlin) and the Asia Research Institute (National University of Singapore).
Salvatore’s work emphasizes connectedness, comparison and theory. His current project focuses on the notion of the “civilizing process” in inter-Asian and global perspectives, within the background of debates on axial civilizations and the underlying transformations and interactions of faith traditions. He has just completed the book The Sociology of Islam. Knowledge, Power and Civility which is intended to be the first volume in a trilogy and will be published by Wiley-Blackwell at the beginning of 2016. He is also editing the Wiley-Blackwell History of Islam, a new reference work condensing historical, comparative and sociological perspectives on the study of Islam.
His most recent books (authored, edited, or co-edited) are Rethinking the Public Sphere Through Transnationalizing Processes (2013), Islam and Modernity: Key Issues and Debates (2009), The Public Sphere: Liberal Modernity, Catholicism, Islam (2007, pb 2010), Islam in Process: Historical and Civilizational Perspectives(2006), Religion, Social Practice, and Contested Hegemonies (2005) and Public Islam and the Common Good (2004, pb 2007).

Contact information

Birks Building
3520 rue University, Montreal, Quebec, H3A 2A7

Sekularisme itu Bukan Islam


Percakapan dengan Prof. Dr. Armando Salvatores, Guru Besar Studi Agama dan Associate Professor MacGill University Institute of Islamic Studies, Montreal, Kanada. (*)

Oleh Shofwan Karim

Di tengah suhu udara minus 24 ‘C, kami mencari gedung Birks. Sesuai janji dengan Prof. DR. Armando Salvatores, di situ kami bertemu dan diskusi.
Rabu lalu, (18/2) selesai sesi kerja CWY, sebelum naik bus Greyhound ke Ottawa, kami terseok-seok di tengah salju tebal kampus dalam kedinginan menusuk tulang.

Armando keluar dan persilahkan kami masuk ruangan guru gesar tempatnya sehari-hari bekerja. Ukuran luasnya terasa memadai dengan rak-rak buku dan file yang rapi.

Kursi dan meja kerja pribadi, meja dengan kursi diskusi, computer, printer, serta kursi sofa tamu empuk dengan meja segi empat seperti ruangan vip. Di situ Armando memunyai asisten tetap 1 orang.

Sesuai janji, langsung diberikannya sebuah buku buah karya bersama sebagai editor Muhammad Masud, Armando Salvatore dan Martin van Bruinessen. Judul buku itu adalah Islam dan Modernity (Islam dan Kemoderenan).

Peminat tinggi 
Di Universitas McGill ini ada belasan fakultas dan puluhan program studi. Di antaranya ada fakultas studi-studi agama. Di fakultas ini dipelajari berbagai agama di dalam kajian tekstual dan kontekstual.

Dikaji agama-agama itu dalam pemahaman konsep, ajaran aslinya dan praktik aplikasi dalam kehidupan pribadi dan etnis serta sosial kemasyarakatan dari pemeluknya di dunia.

Antropologi dan sosiologi agama merupakan repleksi dari ajaran teologi masing-masing agama dalam kehidupan nyata.

Studi agama Islam, mendapat tempat khusus. Pada awalnya bergabung di fakultas studi-studi agama ini sejak diluncurkan 1952/1953.

Belakangan berdiri sendiri menjadi Institut Studi Islam Universitas McGill (McGill University Institute of Islamic Studies).

Sejak 1970-an sampai sekarang kerjasama institut ini dengan direktorat perguruan tinggi kementerian agama terus berlangsung.

Di antaranya dosen yang mengambil S2 dan S3 studi Islam dan tukar progfesor tamu. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, pernah menjadi profesor tamu di institut ini.
Kembali ke soal kuliah agama, uniknya menurut Armando, studi agama untuk mata kuliah pengantar diletakkan sebagai mata kuliah pilihan bagi seluruh fakultas dan prodi selain dari fakultas studi agama-agama itu.

Maka mahasiswa sipil, science, teknik, informasi, matematika, kedokteran, kesehatan, farmasi, kimis, fisika, hukum, politik, ilmu-ilmu sosial, ekonomi dan seterusnya dapat memilih mata kuliah ini.
Mereka dapat mengambil mata kuliah ini sebagai pilihan yang dihitung angka kreditnya.

Ternyata banyak sekali bahkan sebagian besar mahasiswa mengambil mata kuliah pilihan ini. Sesuatu yang menakjubkan di kampus modern, peminatnya sangat tinggi, katanya.

Sekularisme bukan Islam
Paham pemisahan agama dengan kehidupan, apalagi pemisahan urusan agama dan negara, tidak ada di dalam Islam. Begitu pemahaman saya, kata Prof. Armando.

Pada abad ke-16 dan 17, munculnya pemisahan itu hanya kemauan dari pihak tertentu di Eropa. Berbilang bangsa Eropa menjajah bangsa-bangsa Muslim. Maka paham itu masuk ke negeri-negeri Muslim.

Padahal sejak kelahirannya, Islam itu konsisten menjalankan urusan dunia dan akhirat, pribadi dan komunitas, di rumah, luar rumah atau ruangan public, syariat dan negara dalam satu nafas.

Bila terjadi pergesekan, itu karena sudah masuknya aura politik, kekuasaan dan ketidak sepahaman di dalam makna Islam yang orisinal dalam konteks kemoderenan. (*/Bersambung)
*) bagian 5, kunjungan ke Kanada Februari 2015 Published by http://hariansinggalang.co.id/sekularisme-itu-bukan-islam/
Advertisements
Occasionally, some of your visitors may see an advertisement here
You can hide these ads completely by upgrading to one of our paid plans.
Upgrade now Dismiss message

Diambl dari: https://shofwankarim.wordpress.com/2015/03/13/sekularisme-itu-bukan-islam/



Mosque

Mosque
Masjid at Massachussette, Wash, DC

Grand Central, Washington, DC.

Grand Central, Washington, DC.
in Front of Train Station of Grand Central Wash. DC

Washington, DC

Washington, DC
During IV Leadership Program, at George Washington Statue

Portland, Maine

Portland, Maine
Family Dinner Program in Portland, Maine.

IV Leadership Program

IV Leadership Program
On Right, DR. Razi Hasan, Imam Masjid Tauhid, Hunstville, Alabama after an International Seminar of Muslim Community, May 2005

Birmingham, Alabama

Birmingham, Alabama
At the Hospital for Senior Citizen with Participant from Uganda, the Philippines, Tanzania and .....

IV Pasrticipants

IV Pasrticipants
Left and Right Participant from Nigeria (Abdul Latif) Washin and Tanzania

George Washington University

George  Washington University
A part of Medical Faculty of George Washington University

IV Program, Friends

IV Program, Friends
A friend from Pakistan. Snap in front of White House arena

IV 2005, Friends

IV 2005, Friends
Bob, A Efendi, some one, Jo, all of Staff of IV Leadership Program 2005, visited Malaysia after program on Jan, 2006

Santa Fe, NM, USA

Santa Fe, NM, USA
Down-hill Skiing, Santa Fe, IV 2005

Seattle Farmer Market

Seattle Farmer Market
Azhari Affandi (Malaysia Participant), Pakistani Lady, South Africa Lady, The Pihilipine and others at Farmer Market Seattle, WA

International Visitor

International Visitor
Evaluation Meeting of Program in Seattle, WA, May, 25, 2005

Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban


Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban, (Kerisauan Bersama Cucu Magek Dirih)

www.padangekspres.co.id/
Kamis, 12 Juni 2008
Oleh : Shofwan Karim.

Cendekiawan MuslimKerisauan Cucu Magek Dirih (Cucu Magek/CM), harus diakui telah menjadi kerisauan kita bersama. Termasuk Cucu Bandaro Saga Jantan (Cucu Saga/CS).

Maka berikut ini diskusi lanjutan dalam rangkaian menyambut esai CM, Selasa 3 Juni lalu: “ Transformasi Islam yang Membina Perilaku Umat (Shofwan Tidak Risau/Sudah Puas?)”.

Sebelumnya, CM (Sutan Zaili Asril) menulis kegagalan subyek pembina perilaku umat. (Lihat, Padang Eskpres, “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, Minggu, 25/5. Terhadap esai itulah CS (Shofwan Karim) menulis, “Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat—Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih”, Sabtu, 31/5.

Kalau tidak salah, kali ini CM menggeser pokok pembahasan dari yang semula subyek (umara/ulama, dai/muballigh) yang gagal melakukan pembinaan ummat kepada hal bawaan subyek itu, yaitu transformasi Islam. Paling tidak, gagasan itu yang ditangkap oleh CS dalam membaca diskusi 3/6 yang baru lalu. Oleh karena itu, sebaiknya ke mana irama gendang CM, ke situ pula langkah SC berayun. Singkatnya, CM menghendaki cendekiawan muslim memiliki konsep transformasi Islam yang membina perilaku umat.

Mungkin yang diinginkan CM adalah konsep baru. Kalau konsep lama, rasanya seperti menuangkan garam ke laut. Khazanah “garam” intelektual CM sudah penuh dengan konsep lama itu. Katakanlah, setiap cendekiawan yang tergabung di dalam berbagai organisasi ummat di Indonesia telah memiliki konsep transformasi Islam yang sudah lama tersebut. Muhammadiyah (dulu) memiliki konsep 9 komponen matan-keyakinan hidup dan cita-cita.

Sejak Muktamar 2000, konsep itu dilengkapi dengan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama dengan konsep ahlu sunnah wal jamaah-nya; persaudaraan (ukhuwah) imaniah, wathaniyah dan basyariah-nya. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dengan konsep 5 K-nya. Tidak perlu pula CS menguraikan satu persatu karena nanti CM akan menganggap menggurui. Itu hanya untuk menyebut secuil konsep yang menurut CS perlu dipertimbangkan terus-menerus dikaji, diaplikasikan dan dievaluasi.

Kalau kita mau singgung Persatuan Islam (Persis), al-Jamiah-alkhairiah, al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan seterusnya, maka deretan konsep itu semakin panjang. Lebih dari itu, sejak dari wafatnya Rasulullah, masa sahabat dan masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, Bani Umaiyah, Shafawi, Mughal, Ustmani, sampai berakhirnya kekhalifahan Islam dengan merdekanya negara-negara Islam di dunia sejak pertengahan abad lalu, secara global transformasi Islam tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas.

Ketidakselesaian transformasi Islam itu, menurut hemat CS adalah sesuatu yang harus direnungkan secara dalam. Apakah Islam sudah selesai menjadi agama kebudayaan dan peradaban? Islam mungkin sudah selesai menjadi agama wahyu, menjadi agama theologi atau dimensi akidah. Tetapi ketika Islam menjadi perilaku budaya dan peradaban, maka menurut CS, transformasi Islam tidak akan pernah berhenti dan berakhir.

Hal itu menjadi relevan karena kebudayaan dan peradaban manusia termasuk ummat Islam terus berkembang. Secara kasat mata, terjadi transformasi yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dimensi syariah, ambil misalnya fikih munakahat (pernikahan). Kitab fikih kita oleh beberapa kalangan diminta untuk ditinjau secara komprehensif akibat perkembangan budaya dan peradaban baru yang disebut dunia maya (virtual world/cyberworld). Masalah ijab kabul, misalnya.

Kalau dulu ada pendapat pro kontra ijab-kabul via telepon, maka sekarang bagaimana dengan sistem chatting internet atau via video-call 3 G. Contoh-contoh itu akan bisa diperpanjang dengan bidang dan dimensi lainnya dalam perkembangan budaya dan peradaban mutakhir lainnya.
Bagaimanapun, transformasi Islam ada yang berjalan secara terencana atau sebaliknya alamiah (untuk tidak menyebut tanpa konsep). Tergantung pemahaman dan praktik Islam oleh siapa, di mana, serta pada tingkat komunitas inetelektual, akal dan budaya pendukungnya. Misalnya soal perilaku ummat.

Kalau yang kita maksud perilaku aqidah dan ibadah yang semestinya bersesuaian dengan perilaku budaya (praktik hidup), maka Al-Qur’an sudah menyebutkan secara lugas dan tegas bahwa orang yang bertaqwa itu mesti dekat kepada Allah dan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya, karena Allah lebih dekat dari pada urat leher mereka sendiri.

Shalat, selanjutnya, bukankah ibadah wajib ini tidak hanya gerakan fisik tetapi lebih-lebih lagi mengubah perilaku untuk tidak melakukan yang terlarang dan yang mungkar? Sebutlah Aqidah dan ibadah mahdhah dan rukun Islam yang lain, semuanya sudah tercantum di dalam kitab-kitab putih atau kuning mengenai Ushuluddin (Tauhid), Syari’ah, Fikih, Tasawuf dan seterusnya.

Tiap-tiapnya ada pemikiran terdalam yang disebut dengan filsafat (hikmah) aqidah dan syari’ah-nya. Semuanya mengacu kepada konsep transformasi perubahan perilaku dari yang tercela kepada yang terpuji untuk setiap individu, kolegial dan komunal. Soalnya, siapa yang menatalaksanakan konsep itu dalam pentadbiran (manajemen) kehidupan?

Di sini barangkali ada sedikit perbedaan cara pandang antara CM dan CS. Kalau CM memandang beban itu terletak pada pundak umara dan ulama. Pada pikiran CS, beban itu harus dipikul bersama oleh setiap orang dan komponen serta unsur, alias tanggung jawab kolektif, sejak dari rumah tangga sampai ke ruangan publik. Tentu ulama dan zu’ama (cendekiawan) berada dan mengemban posisi dan fungsi strategis.

Keduanya sudah (relatif) dan diharapkan menjadi lokomotif, penggerak utama. CS sependapat dengan CM, sebagai transformator, umara dan ulama berada pada garis depan. Kalau umara’ menjadi mesin penggerak, maka ulama selayaknya menjadi dinamo atau aki yang merangsang mesin itu terus menerus. Tetapi perlu direnungkan bahwa kedua komponen itu tidak berarti apa-apa tanpa komponen-komponen lainnya.

Di dalam transformasi Islam ini, bisa jadi kita harus mengkaji ulang tentang Islam ini. Sebelumnya kita kita sudah terlanjur mempunyai Islam “yang masing-masing”. Betapa, kadang-kadang kita berharap orang lain berbudaya dan berperadaban Islam seperti apa yang kita pikirkan, sementara pikiran dan akal itu merupakan anugerah paling berharga dari Allah SWT.
Termasuk dalam manifestasinya pada kehidupan masing-masing diri, keluarga, komunitas dan seterusnya. Soalnya sekarang, ada di antara kita yang bekerja terus menerus di segmen praktis seperti guru, dosen, pedagang, wartawan, pemerintah, dan kelompok profesional yang terlanjur tidak menoleh ke kanan dan kiri.

Ada di antara kita yang menganggap Islam yang kita pikirkan kita praktikkan, itulah yang paling benar. Sementara yang orang lain pikirkan dan praktikkan adalah salah. Artinya, masing-masing kita harus mentranformasi Islam dalam dirinya, budayanya dan peradabannya, termasuk CS. Islam yang rahmatan lil alamin. ***